Showing posts with label matematika. Show all posts
Showing posts with label matematika. Show all posts

SEJARAH DARI MATEMATIKA DESKRIT

MATEMATIKA MENURUT SEJARAH

Matematika (dari bahasa Yunani: μαθηματικά - mathēmatiká) adalah studi besaran, struktur, ruang, dan perubahan. Para matematikawan mencari berbagai pola, merumuskan konjektur baru, dan membangun kebenaran melalui metode deduksi yang kaku dari aksioma-aksioma dan definisi-definisi yang bersesuaian.
Terdapat perselisihan tentang apakah objek-objek matematika seperti bilangan dan titik hadir secara alami, atau hanyalah buatan manusia. Seorang matematikawan Benjamin Peirce menyebut matematika sebagai "ilmu yang menggambarkan simpulan-simpulan yang penting". Di pihak lain, Albert Einstein menyatakan bahwa "sejauh hukum-hukum matematika merujuk kepada kenyataan, mereka tidaklah pasti; dan sejauh mereka pasti, mereka tidak merujuk kepada kenyataan."
Melalui penggunaan penalaran logika dan abstraksi, matematika berkembang dari pencacahan, perhitungan, pengukuran, dan pengkajian sistematis terhadap bangun dan pergerakan benda-benda fisika. Matematika praktis telah menjadi kegiatan manusia sejak adanya rekaman tertulis. Argumentasi kaku pertama muncul di dalam Matematika Yunani, terutama di dalam karya Euklides, Elemen.
Matematika selalu berkembang, misalnya di Cina pada tahun 300 SM, di India pada tahun 100 M, dan di Arab pada tahun 800 M, hingga zaman Renaisans, ketika temuan baru matematika berinteraksi dengan penemuan ilmiah baru yang mengarah pada peningkatan yang cepat di dalam laju penemuan matematika yang berlanjut hingga kini.
Kini, matematika digunakan di seluruh dunia sebagai alat penting di berbagai bidang, termasuk ilmu alam, teknik, kedokteran/medis, dan ilmu sosial seperti ekonomi, dan psikologi. Matematika terapan, cabang matematika yang melingkupi penerapan pengetahuan matematika ke bidang-bidang lain, mengilhami dan membuat penggunaan temuan-temuan matematika baru, dan kadang-kadang mengarah pada pengembangan disiplin-disiplin ilmu yang sepenuhnya baru, seperti statistika dan teori permainan.

Sejarah penemuan dari Matematika Diskrit


Sejarah matematika diskrit muncul dari beragam permasalahan rumit yang mengundang perhatian ke bidang tersebut. Di grafis, banyak penelitian dilakukan untuk membuktikan teorema 4 warna, yang pertama kali muncul pada tahun 1852, berhasil dibuktikan pada tahun 1976 oleh Kenneth Appel serta Wolfgang Haken menggunakan bantuan computer.

Kebutuhan untuk memecahkan kode dikembangkan oleh Jerman pada Perang Dunia II menyebabkan perkembangan kriptografi serta ilmu computer, dengan berkembangnya komputer dijital elektronik dapat di program pertama di Inggris. Pada waktu bersamaan, kebutuhan militer mengundang perkembangan pada penelitian operasi.


Perang Dingin menunjukan bahwa kriptografi tetaplah penting, dengan perkembangan penting seperti kriptografi public-key dikembangkan bertahun-tahun kemudian. Penelitian operasi tetap menjadi alat penting di dalam bisnis manajemen proyek, dengan metode jalur penting dikembangkan pada tahun 1950an. Industri telekomunikasi juga memacu perkembangan perhitungan, terutama pada teori grafis dan teori informasi. Verifikasi sebuah pernyataan logika menjadi wajib di pengembangan perangkat lunak dan sistem keamanan.

Geometri komputasional juga menjadi bagian penting di grafis komputer menjadi bagian permainan video modern dan peralatan desain komputer. Beberapa bagian matematika diskrit seperti teori ilmu komputer, teori grafis dan kombinatoris menjadi penting dalam menghadapi permasalah bioinformatika dalam memahami pohon kehidupan.


Sejarah Graf

Penemu graf adalah L. Euler ( Leonhard Euler ). Graf ditemukan disebuah jembatan Königsberg (tahun1736). Di kota Königsberg (sebelah timur negara bagian Prussia, Jerman), yang sekarang bernama kota Kaliningrad, terdapat sungai Pregal yg mengalir mengintari pulau Kneiphof lalu bercabang menjadi dua buah anak sungai. Ada 7 buah jembatan yg menghubungkan daratan yg dibelah oleh sungai tersebut. Sejarah Graf : masalah jembatan Königsberg (tahun 1736)
Graf yang merepresentasikan jembatan Königsberg:
Simpul (vertex) à menyatakan daratan
Sisi (edge) à menyatakan jembatan

Definisi Graf
Graf merupakan sebagai pasangan himpunan (V, E), ditulis dengan notasi G = (V, E), yang dalam hal ini:
– V = himpunan tidak - kosong dari simpul-simpul (vertices) = { v1 , v2 , ... , vn }, dan
– E = himpunan sisi (edges) yang mnghubungkan sepasang simpul = {e1 , e2 , ... , en }
Definisi diatas mengatakan bahwa V tidak boleh kosong, sedangkan E boleh kosong.
Jadi sebuah graf dimungkinkan tidak mempunyai sisi satu buah pun, tetapi simpulnya harus ada.

Unsur - Unsur dari Graf

Simpul (Vertex) adalah daratan ( titik - titik yg dihubungkan oleh jembatan ), yang dinyatakan sebagai titik (noktah).
Sisi (Edge) adalah jembatan yang dinyatakan sebagai garis.
Garis Paralel adalah pada G2, sisi E3 = (1,3) dan sisi E4 = (1,3) dinamakan sisi ganda.
Komponen Graf
Alur adalah setiap lintasan yang semua titik simpul berbeda satu sama lain kecuali titik awal dan titik akhirnya.
Panjang adalah banyak sisi / lintasan yang ditempuh.
Derajat adalah jumlah rusuk atau sisi yang menuju satu titik simpul.
Titik terasing adalah titik yang tidak memiliki garis penghubung / jalan.
Jalan tapak adalah suatu lintasan yang tidak memiliki dua rusuk yang sama.
Ketetanggan adalah dua buah simpul dikatakan bertetangga bila keduanya terhubung langsung.
Simpul terpencil adalah simpul yang tidak mempunyai sisi yang bersisian dengannya.
Graf Kosong adalah graf yang himpunan sisinya merupakan himpunan kosong (Nn).
Siklus atau sirkuit adalah lintasan yang berawal dan berakhir pada simpul yang sama.
Panjang sirkuit adalah jumlah sisi dalam sirkuit tersebut.
Terhubung adalah dua buah simpul v1 dan simpul v2 disebut terhubung jika terdapat lintasan dari v1. Graf berarah G dikatakan terhubung jika graf tidak berarahnya terhubung (graf tidak berarah dari Gdiperoleh dengan menghilangkan arahnya).
Dua simpul, u dan v, pada graf berarah G disebut terhubung kuat (strongly connected) jika terdapat lintasan berarah dari u ke v dan juga lintasan berarah dari v ke u. Jika u dan v tidak terhubung kuat tetapi terhubung pada graf tidak berarahnya, maka u dan v dikatakan terhubung lemah (weakly coonected).
Graf berarah G disebut graf terhubung kuat (strongly connected graph) apabila untuk setiap pasang simpul sembarang u dan v di G, terhubung kuat. Kalau tidak, G disebut graf terhubung lemah.
Upagraf dan Komplomen Upagraf Komplemen dari upagraf G1 terhadap graf G adalah graf G2 = (V2, E2) sedemikian sehingga E2 = E - E1 dan V2 adalah himpunan simpul yang anggota-anggota E2 bersisian dengannya.Komponen graf (connected component) adalah jumlah maksimum upagraf terhubung dalam graf G.
UpagrafRentang Upagraf G1 = (V1, E1) dari G = (V, E) dikatakan upagraf rentang jika V1 =V (yaitu G1 mengandung semua simpul dari G).
Cut - Set adalah adalah himpunan sisi yang bila dibuang dari G menyebabkan G tidak terhubung. Jadi, cut-set selalu menghasilkan dua buah komponen.
Contoh :
Pada graf di bawah, {(1,2), (1,5), (3,5), (3,4)} adalah cut-set. Terdapat banyak cut-set pada sebuah graf terhubung. Himpunan {(1,2), (2,5)} juga adalah cut-set, {(1,3), (1,5), (1,2)} adalah cut-set, {(2,6)} juga cut-set, tetapi {(1,2), (2,5), (4,5)} bukan cut-set sebab himpunan bagiannya, {(1,2), (2,5)} adalah cut-set.
Graf berbobot adalah graf yang setiap sisinya diberi sebuah harga (bobot).

Jenis - Jenis Graf
Berdasarkan ada tidaknya gelang atau sisi ganda pada suatu graf, maka graf digolongkan menjadi dua jenis:

1. Graf sederhana (simple graph).
Graf yang tidak mengandung gelang maupun sisi ganda dinamakan graf sederhana. G1 pada contoh graf sederhana.


2. Graf tak-sederhana (unsimple-graph).
Graf yang mengandung sisi ganda atau gelang dinamakan graf tak-sederhana (unsimple graph). G2 dan G3 pada contoh adalah graf tak-sederhana.

Berdasarkan jumlah simpul pada suatu graf, maka secara umum graf dapat digolongkan menjadi dua jenis:

1. Graf berhingga (limited graph)
Graf berhingga adalah graf yang jumlah simpulnya, n, berhingga.
2. Graf tak-berhingga (unlimited graph)
Graf yang jumlah simpulnya, n, tidak berhingga banyaknya disebut graf takberhingga.

Berdasarkan orientasi arah pada sisi, maka secara umum graf dibedakan atas dua jenis:

1. Graf tak-berarah (undirected graph)
Graf yang sisinya tidak mempunyai orientasi arah disebut graf tak-berarah. Tiga buah graf pada contoh a,b,dan c adalah graf tak-berarah.
2. Graf berarah (directed graph atau digraph)
Graf yang setiap sisinya diberikan orientasi arah disebut sebagai graf berarah.
Pada graf berarah notasi : d(v)
din(v) = derajat-masuk (in-degree)
= jumlah busur yang masuk ke simpul v

dout(v) = derajat-keluar (out-degree)
= jumlah busur yang keluar dari simpul v


Lemma Jabat Tangan. Jumlah derajat semua simpul pada suatu graf adalah genap, yaitu dua kali jumlah sisi pada graf tersebut. Dengan kata lain, jika G = (V, E), maka :
Tinjau graf G1: d(1) + d(2) + d(3) + d(4) = 2 + 3 + 3 + 2 = 10
= 2 ´ jumlah sisi = 2 ´ 5
Tinjau graf G2: d(1) + d(2) + d(3) = 3 + 3 + 4 = 10
= 2 ´ jumlah sisi = 2 ´ 5
Tinjau graf G3: d(1) + d(2) + d(3) + d(4) + d(5) = 2 + 2 + 3 + 1 + 0 = 8
= 2 ´ jumlah sisi = 2 ´ 4
Contoh :
Diketahui graf dengan lima buah simpul. Dapatkah kita menggambar graf tersebut jika derajat masing-masing simpul adalah:
(a) 2, 3, 1, 1, 2
(b) 2, 3, 3, 4, 4
Penyelesaian:
(a) tidak dapat, karena jumlah derajat semua simpulnya ganjil
(2 + 3 + 1 + 1 + 2 = 9).
(b) dapat, karena jumlah derajat semua simpulnya genap
(2 + 3 + 3 + 4 + 4 = 16).
Lintasan yang panjangnya n dari simpul awal v0 ke simpul tujuan vn di dalam graf G ialah barisan berselang-seling simpul-simpul dan sisi-sisi yang berbentuk v0, e1, v1, e2, v2,... , vn –1, en, vn sedemikian sehingga e1 = (v0, v1), e2 = (v1, v2), ... , en = (vn-1, vn) adalah sisi-sisi dari graf G.
Tinjau graf G1: lintasan 1, 2, 4, 3 adalah lintasan dengan barisan sisi (1,2), (2,4), (4,3).
Panjang lintasan adalah jumlah sisi dalam lintasan tersebut. Lintasan 1, 2, 4, 3 pada G1 memiliki panjang 3.

Beberapa Graf Sederhana Khusus

a. Graf Lengkap
Graf lengkap ialah graf sederhana yang setiap simpulnya mempunyai sisi ke semua simpul lainnya. Graf lengkap dengan n buah simpul dilambangkan dengan Kn. Jumlah sisi pada graf lengkap yang terdiri dari n buah simpul adalah n(n – 1)/2.

b. Graf Lingkaran
Graf lingkaran adalah graf sederhana yang setiap simpulnya berderajat dua. Graf lingkaran dengan n simpul dilambangkan dengan Cn.

c. Graf Teratur
Graf yang setiap simpulnya mempunyai derajat yang sama disebut graf teratur. Apabila derajat setiap simpul adalah r, maka graf tersebut disebut sbagai graf teratur derajat r.

d. Graf Bipartite
Graf G yang himpunan simpulnya dapat dipisah menjadi dua himpunan bagian V1 dan V2, sedemikian sehingga setiap sisi pada G menghubungkan sebuah simpul di V1 ke sebuah simpul di V2 disebut graf bipartit dan dinyatakan sebagai G(V1, V2).


Macam - Macam Graf

A. Graf Euler
Lintasan Euler ialah lintasan yang melalui masing-masing sisi di dalam graf tepat satu kali. Sirkuit Euler ialah sirkuit yang melewati masing-masing sisi tepat satu kali.Graf yang mempunyai sirkuit Euler disebut graf Euler (Eulerian graph).
Graf yang mempunyai lintasan Euler dinamakan juga graf semi-Euler (semi-Eulerian graph)
Contoh : Lintasan Euler pada graf Gambar 6.42(a) : 3, 1, 2, 3, 4, 1
Lintasan Euler pada graf Gambar 5.42(b) : 1, 2, 4, 6, 2, 3, 6, 5, 1, 3
Sirkuit Euler pada graf Gambar 6.42(c) : 1, 2, 3, 4, 7, 3, 5, 7, 6, 5, 2, 6, 1
Sirkuit Euler pada graf Gambar 6.42(d) : a, c, f, e, c, b, d, e, a, d, f, b, a
Graf (e) dan (f) tidak mempunyai lintasan maupun sirkuit Euler.

B. Graf Hamilton
Lintasan Hamilton ialah lintasan yang melalui tiap simpul di dalam graf tepat satu kali.
Sirkuit Hamilton ialah sirkuit yang melalui tiap simpul di dalam graf tepat satu kali, kecuali simpul asal (sekaligus simpul akhir) yang dilalui dua kali.Graf yang memiliki sirkuit Hamilton dinamakan graf Hamilton, sedangkan graf yang hanya memiliki lintasan Hamilton disebut graf semi-Hamilton.

C. Graf Isomorfik
· Dua buah graf yang sama tetapi secara geometri berbeda disebut graf yang saling isomorfik.
· Dua buah graf, G1 dan G2 dikatakan isomorfik jika terdapat korespondensi satu-satu antara simpul-simpul keduanya dan antara sisi-sisi keduaya sedemikian sehingga hubungan kebersisian tetap terjaga.
· Dengan kata lain, misalkan sisi e bersisian dengan simpul u dan v di G1, maka sisi e’ yang berkoresponden di G2 harus bersisian dengan simpul u’ dan v’ yang di G2.
· Dua buah graf yang isomorfik adalah graf yang sama, kecuali penamaan simpul dan sisinya saja yang berbeda. Ini benar karena sebuah graf dapat digambarkan dalam banyak cara.

MATEMATIKA DISKRIT RELASI DAN FUNGSI

matematika diskrit relasi dan fungsi

Pengertian Relasi

Pengertian Fungsi

RELASI REKURENSI pada MATEMATIKA DESKRIT

Pengertian Relasi Rekurensi Matematika Diskrit

Relasi Rekurensi merupakan salah satu masalah dalam Matematika Diskrit. Sebuah relasi rekurensi mendefinisikan suku ke-n dari sebuah barisan secara tak langsung; untuk menghitung an, pertama-tama harus dihitung a0, a1, a3..., an-1. Salah satu permasalahan yang melibatkan relasi rekurensi adalah masalah Tower of Hanoi, yang selanjutnya akan dicari bentuk umum penyelesaiannya. Relasi rekurensi jgka akan membahas penyelesaian umum yang melibatkan persamaan linier homogen dengan koefisien konstan yang  melibatkan persamaan karakteristik dengan 2 akar, yaitu (1) r1, r2 dua bilangan riil yang berbeda. (2) r1, r2 dua bilangan kompleks. (3) r1, r2 dua bilangan riil yang sama, selanjutnya r1 dan r2 akan disebut akar-akar karakteristik.

Himpunan Yang Didefinisikan Secara Rekursif

Langkah-langkah dalam mendefinisikan suatu himpunan secara rekursif:
  1. Langkah basis: Spesifikasi koleksi awal dari anggota 
  2. Langkah rekursif: Mendefinisikan aturan konstruksi anggota baru dari anggota yang telah diketahui
Contoh 1:

Misalkan S didefinisikan secara rekursif oleh: 3 Î S, (x+y) Î S jika x Î S dan y Î S
Maka S adalah himpunan bilangan bulat positif yang habis dibagi 3.

Bukti:
Misalkan A himpunan yang beranggotakan semua bilangan bulat positif yang habis dibagi 3.
Untuk membuktikan bahwa A = S, harus ditunjukkan
A Í S dan S Í A.


Bagian I:
Akan dibuktikan A Í S, yaitu menunjukkan bahwa setiap bilangan bulat positif yang habis dibagi 3 ada di S (dengan menggunakan induksi matematika).
Misalkan P(n): proposisi “3n anggota S”.
1. Langkah basis: P(1) benar, karena 3 Î S.

2. Langkah induktif:
Asumsikan P(k) benar, yaitu 3k Î S.
Akan ditunjukkan P(k+1) juga benar, yaitu 3(k+1) Î S
Karena 3k Î S dan 3 Î S, berdasarkan definisi rekursif dari S, 3k+3 = 3(k+1) juga ada di S.

3. Konklusi:
Jadi, setiap bilangan bulat positif yang habis dibagi 3 ada di S.
Kesimpulan dari bagian I adalah A Í S.

Bagian II:
Akan ditunjukkan S Í A dengan menggunakan definisi rekursif dari S.
Langkah basis:
Akan ditunjukkan setiap anggota awal S ada di A.
Karena 3 habis dibagi 3 maka 3 Î A.
Langkah rekursif:
Akan ditunjukkan bahwa setiap bilangan bulat yang dibangun dengan mengunakan langkah rekursif juga merupakan anggota A, yaitu
(x+y) Î A jika x,y Î S (yang diasumsikan Î A).
Jika x dan y keduanya di A, maka 3 | x dan 3 | y. Akibatnya, 3 | (x + y).
Kesimpulan dari bagian II adalah S Í A.
Jadi, secara keseluruhan, berlaku A = S.

Relasi Rekurens

Relasi rekursif adalah suatu topik penting dan menarik dalam kombinatorik. Banyak permasalahan dalam matematika, khususnya kombinatorik dapat dimodelkan ke dalam bentuk relasi rekursif. Suatu barisan didefinisikan secara rekursif jika kondisi awal barisan ditentukan, dan suku-suku barisan selanjutnya dinyatakan dalam hubungannya dengan sejumlah suku-suku yang sudah dinyatakan sebelumnya.
Barisan (sequence) a0, a1, a2, …, an dilambangkan dengan {an} Elemen barisan ke-n, yaitu an, dapat ditentukan dari suatu persamaan.
Bila persamaan yang mengekspresikan an dinyatakan secara rekursif dalam satu atau lebih term elemen sebelumnya, yaitu a0, a1, a2, …, an–1, maka persamaan tersebut dinamakan relasi rekurens.

Artikel Terkait : solusi-khusus-dari-relasi-rekurensi

Contoh 2:
an = 2an–1 + 1
an = an–1 + 2an–2
an = 2an–1 – an–2
Kondisi awal (initial conditions) suatu barisan adalah satu atau lebih nilai yang diperlukan untuk memulai menghitung elemen-elemen selanjutnya.

Contoh 3:
an = 2an–1 + 1; a0 = 1
an = an–1 + 2an–2 ; a0 = 1 dan a1 = 2
Karena relasi rekurens menyatakan definisi barisan secara rekursif, maka kondisi awal merupakan langkah basis pada definisi rekursif tersebut.

Contoh 4:
Barisan Fibonacci 0, 1, 1, 2, 3, 5, 8, 13, … dapat dinyatakan dengan relasi rekurens
fn = fn–1 + fn–2 ; f0 = 0 dan f1 = 1
Kondisi awal secara unik menentukan elemen-elemen barisan. Kondisi awal yang berbeda akan menghasilkan elemen-elemen barisan yang berbeda pula.
Solusi dari sebuah relasi rekurens adalah sebuah formula yang tidak melibatkan lagi term rekursif. Formula tersebut memenuhi relasi rekurens yang dimaksud.

Contoh 5:
Misalkan {an} adalah barisan yang memenuhi relasi rekurens berikut:
an = 2an–1 – an–2 ; a0 = 1 dan a1 = 2
Periksa apakah an = 3n merupakan solusi relasi rekurens tersebut.
Penyelesaian:
2an–1 – an–2 = 2[3(n – 1)] – 3(n – 2)
= 6n – 6 – 3n + 6
= 3n = an
Jadi, an = 3n merupakan solusi dari relasi rekurens tersebut.
Apakah an = 2n merupakan solusi relasi rekurens an = 2an–1 – an–2 ; a0 = 1 dan a1 = 2?
Penyelesaian:
2an–1 – an–2 = 2×2n–1 – 2n–2
= 2n–1 + 1 – 2n–2
= 2n – 2n–2 ¹ 2n
Jadi, an = 2n bukan merupakan solusi relasi rekurens tsb.
Cara lain: Karena a0 = 1 dan a1 = 2, maka dapat dihitung
a2 = 2a1 – a0 = 2×2 – 1 = 3
Dari rumus an = 2n dapat dihitung a0 = 20 = 1,
a1 = 21 = 2, dan a2 = 22 = 4
Karena 3 ¹ 4, maka an = 2n bukan merupakan solusi dari relasi rekurens tsb.


Metode Iterasi

Metode paling dasar dalam menentukan rumus eksplisit dari barisan yang didefinisikan secara rekursif adalah metode iterasi. Cara kerja iterasi seperti berikut: Diberikan barisan a0, a1, a2, … yang didefinisikan oleh relasi rekursif dan kondisi awalnya, kita akan menentukan beberapa suku awal dari barisan tersebut untuk melihat pola yang terbentuk. Jika kita sudah menemukan polanya, kita dapat menebak rumus eksplisit dari barisan tersebut.

Baca Juga :


solusi persamaan diferensial parsial

PERSAMAAN DIFRENSIAL PARSIAL

Persamaan diferensial parsial (PDP) merupakan  persamaan yang di dalamnya terdapat suku-suku diferensial parsial, yang dalam matematika diartikan sebagai suatu hubungan yang mengaitkan suatu fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan fungsi dari beberapa variabel bebas, dengan turunan-turunannya melalui variabel-variabel yang dimaksud.

PDP digunakan untuk melakukan formulasi dan menyelesaikan permasalahan yang melibatkan fungsi-fungsi yang tidak diketahui, yang merupakan dibentuk oleh beberapa variabel, seperti penjalaran suara dan panas, elektrostatika, elektrodinamika, aliran fluida, elastisitas, atau lebih umum segala macam proses yang terdistribusi dalam ruang, atau terdistribusi dalam ruang dan waktu. Kadang beberapa permasalahan fisis yang amat berbeda memiliki formulasi matematika yang mirip satu sama lain.

BENTUK PERSAMAAN DIFRENSIAL PARSIAL

Bentuk paling sederhana dari persamaan diferensial adalah

 \frac{\part u}{\part x}=0\,
di mana u suatu fungsi tak diketahui dari x dan y. Hubungan ini mengisyaratkan bahwa nilai-nilai u(x,y) adalah tidak bergantung dari x. Oleh karena itu solusi umum dari persamaan ini adalah

u(x,y) = f(y),\,
di mana f adalah suatu fungsi sembarang dari variabel y. Analogi dari persamaan diferensial biasa untuk persamaan ini adalah

 \frac{du}{dx}=0\,
yang memiliki solusi

u(x) = c,\,
di mana c bernilai konstan (tidak bergantung dari nilai x). Kedua contoh di atas menggambarkan bahwa solusi umum dari persamaan diferensial biasa melibatkan suatu kostanta sembarang, akan tetapi solusi dari persamaan diferensial parsial melibatkan suatu fungsi sembarang. Sebuah solusi dari persamaan diferensial parsial secara umum tidak unik; kondisi tambahan harus disertakan lebih lanjut pada syarat batas dari daerah di mana solusi didefinisikan. Sebagai gambaran dalam contoh sederhana di atas, fungsi \!f(y) dapat ditentukan jika \!u dispesifikasikan pada sebuah garis \!x=0.
 
I. TAFSIRAN TURUNAN PARSIAL

Andaikan, z = f (x, y) adalah suatu permukaan fungsi dua variabel dari x dan y. Bilamana y diambil konstan, misalnya y = y0. Berkas permukaan tersebut dinyatakan dengan dua persamaan yaitu :

Z = f (x,y) dan y= y0

Berkas lengkungan permukaan tersebut merupakan perpotongan permukaanz = f (x,y) dan bidang y= yo . Jadi turunan parsial f terhadap x, fx (x,y) di (x0,y0) dapat ditafsirkan sebagai gradian garis singgung kurva yang diberikan oleh z = f (x,y) dan y=y0 dititik (x0,y0), f (x0,y0 ) dengan zo =f (x0,y0).

Dengan pendekatan yang sama, turunan parsial f terhadap y, fy(x,y) ditafsirkan merupakan gradiean garis singgung kurva pada permukaan, z = f (x,y) dan x=x0 dititik P0 (x0,y0,z0) pada bidang x= x0. Karena setiap turunan merupakan ukuran dari suatu laju perubahan, maka turunan parsial dapat diartikan sebagai laju perubahan. Sehingga fx (x,y) dapat diartikan sebagai laju perubahan dari f (x,y) terhadap x bilamana y konstan. Demikian sebaliknya untuk fy(x,y).

II. TURUNAN PARSIAL FUNGSI DAN VARIABEL

Andaikan diberikan fungsi n variabel dari x1,x2,x3,.......xn dengan persamaan :

W=f (x1,x2,x3,.......xn)

III. TURUNAN PARSIAL ORDE TINGGI

Pada umumnya parsial fungsi dua variabel dari x dan y yakny fx(x,y) dan fy (x,y) masih memuat variabel x dan y. Fungsi turunan parsialfx(x,y) dan fy (x,y) masih dapat diturunkan terhadap x dan y, hasinya disebut turunan parsial orde 2.


PENERAPAN DIFERENSIAL PARSIAL DENGAN SAINS

Diferensial parsial digunakan dalam penerapan sains dalam menghitung laju perubahan tekanan, volume dan suhu pada hukum gas ideal.

solusi khusus persamaan diferensial Terpisah

solusi khusus persamaan diferensial

Suatu persamaan diferensial variabel terpisah ditandai oleh fakta bahwa dua peubah dari persamaan itu bersama-sama masing-masing dideferensiannya, dapat ditempatkan di ruas yang berlawanan. Dengan manipulasi aljabar, memungkinkan kita menuliskan persamaan diferensial terpisah dalam bentuk implisit:
y’ = P(x)/Q(x), atau
dalam bentuk eksplisit:
dy/dx = P(x)/Q(x)
Untuk memperoleh penyelesaian umum suatu persamaan diferensial terpisah, pertama-tama kita pisahkan kedua peubah dan kemudian integralkan kedua ruas.
awal        →  Q(y) dy = P(x) dx
integral   →  ∫ P(x) dx = ∫ Q(y) dy + C,  dimana C adalah konstanta sembarang

Note: Bisa dilakukan hanya pada variabel yang sama,
Contoh:
Hanya mengandung variabel  y  ←  (y + 1 / y2 + 4) dy = -x dx   →  Hanya mengandung variabel  x
Contoh soal dan Pembahasan
Selesaikan setiap persamaan diferensial di bawah ini:
1. y2 dy = (x + 3x2) dx, bila mana  x = 0 dan y = 6 →  bentuk Implisit
2. xyy’ + x2 + 1 = 0 bentuk Eksplisit
Pembahasan:
1. y2 dy = (x + 3x2) dx, syarat harus mengandung variabel yang sama pada tiap ruas.
Integralkan kedua ruas
∫ y2 dy = ∫ (x + 3x2) dx
y3/3 + C1 = (x2/2 + x3 + C2)
y3 = (3x2/2 + 3x3 + 3C2 – 3C1)
y3 = 3x2/2 + 3x3 + C    ; C = 3C2 – 3C1
Maka solusi umumnya adalah  :  y3 = 3x2/2 + 3x3 + C 
Menghitung konstanta  C, kita menggunakan persyaratannya bilamana  x = 0  dan  y = 6, maka akan menghasilkan:

C = 216
Solusi khususnya adalah :   y3 = 3x2/2 + 3x3 + 216

Orde dan Derajat

Orde (tingkat) dari suatu persamaan diferensial adalah tingkat atau indeks tertinggi dari turunan yang terlibat. Derajat (degree) dari suatu persamaan diferensial adalah pangkat tertinggi dari turunan yang terlibat. Persamaan diferensial biasa yang berderajat satu kemudian dinamakan persamaan diferensial linear. Persamaan diferensial linear
(dy/dx)2 + x dy/dx + y = 0
berorde satu dan berederajat dua, sedangkan
d2y/dx2 + 2 x (dy/dx)3 + 2 y = x
merupakan persamaan diferensial linear yang berorde dua dan berderajat tiga.

Solusi Persamaan Diferensial

Solusi persamaan diferensial adalah suatu fungsi f(x) atau keluarga fungsi f(x) yang memenuhi persamaan diferensial, yaitu jika f(x) disubstitusikan untuk y dalam PD maka akan menghasilkan suatu pernyataan yang benar.

Solusi umum persamaan diferensial linear adalah suatu keluarga fungsi yang memuat atau mengandung beberapa parameter dan memenuhi persamaannya. Banyaknya parameter dalam solusi umum sama dengan orde persamaaan diferensialnya.

Solusi khusus persamaan diferensial linear adalah fungsi yang merupakan anggota dari keluarga fungsi solusi umum persamaan diferensialnya. Solusi khusus diperoleh dengan mensubstitusikan parameter pada solusi umum oleh suatu konstanta.

BANGUN DATAR SEGITIGA SAMA KAKI, SAMA SISI, SEMBARANG


RUMUS RUMUS BANGUN DATAR

Rumus Bangun Datar
  • Rumus Persegi
Luas = s x s = s2 ( Luas = ½ x diagonal (d) 1 x diagonal (d) 2, 'sudah dibuktikan' )
Keliling = 4 x s
dengan s = panjang sisi persegi
  • Rumus Persegi Panjang
Luas = p x l
p = Luas : lebar
l = Luas : panjang
Keliling = 2p + 2l = 2 x (p + l)
dengan p = panjang persegi panjang, dan l = lebar persegi panjang
  • Rumus Segitiga
Luas = ½ x a x t
dengan a = panjang alas segitiga, dan t = tinggi segitiga
Panjang sisi miring segitiga siku-siku dicari dengan rumus Phytagoras (A2 + B2 = C2)
  • Rumus Jajar Genjang
Luas = a x t
dengan a = panjang alas jajargenjang, dan t = tinggi jajargenjang
  • Rumus Trapesium
Luas = ½ x (s1 + s2) x t
dengan s1 dan s2 = sisi-sisi sejajar pada trapesium, dan t = tinggi trapesium
  • Rumus Layang-layang
Luas = ½ x diagonal (d) 1 x diagonal (d) 2
  • Rumus Belah Ketupat
Luas = ½ x diagonal (d) 1 x diagonal (d) 2
  • Rumus Lingkaran
Luas = π (pi) x jari-jari (r) 2
        = πr2

BANGUN DATAR SEGITIGA, Sifat Sifat Dan Rumus Segitiga

Pada bangun datar Segitiga, mempunyai sifat-sifat diantaranya :
  • Mempunyai 3 sisi dan 3 titik sudut
  • Jumlah ketiga sudutnya 180 derajat
  • Luas = ½ x a x t
  • Keliling = AB + BC + AC 

Bangun segitiga terdiri dari 4 macam, jika dibedakan menurut panjang susu segitiga tersebut yaitu : segitiga sama sisi, segitiga sama kaki, segitiga siku-siku dan segitiga sembarang.

Pada bangun datar Segitiga sama sisi, mempunyai sifat-sifat diantaranya :
Sifat Sifat Bangun Datar - Rumus Bangun Datar
  • Mempunyai 3 buah sisi sama panjang, yaitu AB=BC=CA
  • Mempunyai 3 buah sudut yang besar , yaitu <ABC , <BCA, <CAB
  • Mempunyai 3 sumbu simetri.
  • Mempunyai 3 simetri putar dan 3 simetri lipat

Pada bangun datar Segitiga sama kaki, mempunyai sifat-sifat diantaranya :
Sifat Sifat Bangun Datar - Rumus Bangun Datar
  • Mempunyai 2 buah sisi yang sama panjang, yaitu BC=AC
  • Mempunyai 2 buah sudut sama besar, yaitu < BAC = <ABC
  • Mempunyai 1 sumbu simetri.
  • Dapat menempati bingkainya dalam dua cara.
Pada bangun datar Segitiga siku-siku, mempunyai sifat-sifat diantaranya :
Sifat Sifat Bangun Datar - Rumus Bangun Datar
  • Mempunyai 1 buah sudut siku-siku,yaitu <BAC
  • Mempunyai 2 buah sisi yang saling tegak lurus, yaitu BA dan AC
  • Mempunyai 1 buah sisi miring yaitu BC
  • Sisi miring selalu terdapat di depan sudut siku-siku.
  • Segitiga siku-siku samakaki memiliki 1 sumbu simetri.

Pada bangun datar Segitiga sembarang, mempunyai sifat-sifat diantaranya :
Sifat Sifat Bangun Datar - Rumus Bangun Datar
  • Mempunyai 3 buah sisi yang tidak sama panjang.
  • Mempunyai 3 buah sudut yang tidak sama besar.


Pengertian Bangun Datar segitiga

A. Pengertian segitiga
c1            Perhatikan sisi-sisinya, ada berapa sisi-sisi yang membentuk segitiga ABC? Sisi-sisi yang membentuk segitiga ABC berturut-turut
            adalah AB, BC, dan AC. Sudut-sudut yang terdapat pada segitiga ABC sebagai berikut.
               a. sudut A atau sudut BAC atau sudut CAB.
               b. sudut B atau sudut ABC atau sudut CBA.
               c. sudut C atau sudut ACB atau sudut BCA.
            Jadi, ada tiga sudut yang terdapat pada Δ ABC.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan sebagai berikut :
 Segitiga adalah bangun datar yang dibatasi oleh tiga buah sisi dan mempunyai tiga buah titik  sudut.
B. Jenis-jenis Segitiga
Jenis-jenis suatu segitiga dapat ditinjau berdasarkan :
a. Panjang sisi-sisinya
           1. Segitiga sebarang Segitiga sebarang adalah segitiga yang sisi-sisinya tidak sama panjang. Pada gambar dibawah ini  merupakan
                segitiga sembarang dimana AB tidak sama dengan BC Tidak sama dengan AC
sembaran
          2. Segitiga sama kaki
Segitiga sama kaki adalah segitiga yang mempunyai dua buah sisi sama panjang. Pada gambar dibawah ini merupakan segitiga
               sama kaki ABC dengan AB = BC.
images
          3. Segitiga sama sisi
                Segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki tiga buah sisi sama panjang dan tiga buah sudut sama besar. Segitiga  pada
                Gambar dibawah ini merupakan segitiga sama sisi.
segitiga sama sisi
b. Besar sudut-sudutnya
1. Segitiga lancip
           Segitiga lancip adalah segitiga yang ketiga sudutnya merupakan sudut lancip, sehingga sudut-sudut yang terdapat pada
          segitiga tersebut besarnya antara 0 derajat  dan 90 derajat . Pada Gambar dibawah ini, ketiga sudut pada Δ ABC adalah sudut      
          lancip.
     2. Segitiga tumpul
         Segitiga tumpul adalah segitiga yang salah satu sudutnya merupakan sudut tumpul. Pada  Δ ABC di samping, sudut  ABC adalah
         sudut tumpul.
g
images (3)     3. Segitiga siku-siku
          Segitiga siku-siku adalah segitiga yang salah satu sudutnya merupakan sudut siku-siku (besarnya 90o). Pada Gambar di bawah
          ini, Δ ABC siku-siku di titik C.

c. Panjang sisi dan besar sudutnya.
images (4)1.  Segitiga siku-siku sama kaki         
           Segitiga siku-siku sama kaki adalah segitiga yang kedua sisinya sama panjang dan salah satu sudutnya merupakan sudut siku-
           siku (90 derajat).
           Pada Gambar di bawah ini, Δ abc siku-siku di titik b, dengan ab = ac.
       

h9     2. Segitiga tumpul sama kaki
          Segitiga tumpul sama kaki adalah segitiga yang kedua sisinya sama panjang dan salah satu sudutnya merupakan sudut 
          tumpul.
          Sudut tumpul Δ PQR pada Gambar di bawah ini adalah sudut  P, dengan PR = PQ.